Live Borderless - saya teleh membaca postingan artikel dari mas Arie Saptaji, memberikan gambaran kepada kita bagaimana televisi dengan sangat "sukses" memberikan materi-materi pelajaran kepada masyarakat, terlebih kepada anak-anak yang belum terlalu kritis menanggapi arus informasi dari luar. Mereka masih seperti spon yang menyerap informasi dengan sangat baik.
pertanyaannya adalah bagaimana agar anak lebih menyukai membaca ketimbang menonton televisi?
solusi yang paling ampuh adalah jangan memasang televisi dirumah sebagaimana yang mas arie telah katakan di artikelnya yang berjudul "BALADA TELEVISI RUSAK (Kiat Menumbuhkan Minat Baca pada Anak)"--Promosi dikit, siapa tau kalau mas ajinya baca, bisa di vote....-- ".
oke kembali ke laptop,eh salah kembali ke masalah televisi. memang tanpa televisi kita dapat melindungi keluarga kita dari informasi informasi yang negatif. tetapi perlu diingat televisi juga memberikan wawasan yang bersifat positif(Biarpun pada saat ini lebih banyak negatifnya) seperti tayangan-tayangan dokumenter dan acara-acara edukasi lainnya.
solusi kedua yang lebih releven adalah kita perlu tahu kenapa menonton televisi lebih di gemari daripada kegiatan membaca.Rahasianya adalah(sst, jangang diberitahu yah, ini rahasia kita berdua).
Ternyata otak kita lebih bisa menyerap sesuatu yang melibatkan gambar, dikarenakan otak kita menerima informasi dengan bentuk gambar.
kalo tidak percaya, coba anda bayangkan sebuah mobil ferari berwarna merah, apa yang ada di pikiran anda, otomatis yang keluar adalah gambaran mobil ferari menurut versi kita masing-masing, Bukan Tulisan F-E-R-A-R-I.
dan juga prisip kerja memori bahwa semakin banyak indera(Bukan indra.l.brugmant lho)yang terlibat dalam penerimaan informasi, maka semakin mudah informasi tersebut diserap.
nah televisi merupakan sarana multimedia yang hampir melibatkan indera primer kita(gambar, suara,animasi)dalam menyampaikan informasi memudahkan otak kita menyerap informasi tersebut lebih baik.
sedangkan membaca, yang hanya terdiri dari text-text(meskipun ada gambar2nya)yang monoton akan memaksa pikiran kita
untuk menginterprestasikan terlebih dahulu text tersebut ke dalam bentuk gambar, sehingga beban kinerja otak menjadi lebih
besar.
dengan paparan diatas jelas bahwa untuk membuat anak senang dalam membaca maka ada baiknya kita selaku orang tua(biarpun sy blm jadi ortu)menyampaikan informasi kedalam bentuk yang lebih merangsang daya imajinasi anak, itulah anak-anak lebih senang dibacakan dari pada membaca sendiri dongeng kesukaan mereka.
berita baiknya, sekarang telah banyak cd pembelajaran yang mengajarkan kepada anak dengan pendekatan multimedia.sehingga informasi diserap dengan lebih cepat.
dengan adanya kesadaran dari orang tua yang merupakan sumber awal pendidikan di terapkan, maka kita akan melihat anak-anak lebih suka mendengarkan atau menonton cd pembelajaran ketimbang menonton acara televisi yang sebenarnya belum layak untuk mereka cerna.[k4hf1]